Judul: Malam Retak: Darah Kelima yang Dibenci
Subjudul: Di Balik Demitz, Guild Indist, dan Pemegang Darah Murni yang Bersembunyi
Ringkasan Buku:
Dunia ini telah terbiasa hidup berdampingan dengan ancaman yang tidak pernah benar-benar tidur: Demitz, monster kegelapan yang merayap keluar dari retakan dunia. Namun hanya pada malam tertentu yang dinamai Malam Demitz, kengerian mereka mencapai puncak. Pada malam itu, kekuatan Demitz melonjak berkali lipat, dan retakan di langit serta tanah terbuka lebih lebar dari biasanya. Malam itu bukan sekadar ujian, tetapi lotre kematian bagi kota-kota besar.
Empat kota utama, Bengawan, Musi, Siak, dan Kapuas, menjadi panggung kehancuran serentak. Retakan menganga di udara seperti luka terbuka, menumpahkan Demitz bagai air bah. Bangunan runtuh, jalanan berubah menjadi medan perang, dan jeritan warga bercampur dengan deru sihir. Guild-guild Indist, pasukan pembasmi Demitz yang dilatih khusus, bergerak tanpa henti. Namun malam ini berbeda. Formasi runtuh, komando porak-poranda, dan jumlah musuh melampaui batas logika.
Ketika Indist biasa mulai tumbang satu per satu, empat sosok yang selalu hanya dibicarakan dalam nada hormat dan takut pun turun tangan: para pemegang darah murni. Mereka bukan sekadar yang terkuat, mereka adalah pilar yang menjadi jaminan simbolis bahwa umat manusia masih punya harapan.
Aruna, pemegang pedang api dengan logika tajam dan reputasi sebagai pengambil keputusan paling dingin, memasuki kota dengan kerusakan terparah. Api yang ia kendalikan bukan sekadar alat penyelamat, tetapi juga alat pengorbanan. Di tengah bangunan runtuh dan jalanan yang terbakar, Aruna terpaksa memilih siapa yang diselamatkan dan siapa yang dibiarkan hilang. Keputusannya mungkin menyelamatkan ribuan orang, tetapi juga secara halus menyisakan noda yang akan sulit dihapus dari hati mereka yang kehilangan.
Widya, satu-satunya perempuan di antara darah murni, memimpin dengan elemen logam. Di balik emosinya yang mudah meledak, ada otak strategis yang jarang bisa ditandingi. Ia menggunakan besi dan baja untuk membangun perisai dadakan, jebakan, dan jalur pelarian di tengah kota-kota yang hampir rubuh total. Di balik rencananya yang brilian, selalu ada harga yang perlu dibayar, sering kali dalam bentuk pasukan yang tidak sempat mundur tepat waktu.
Kanala, pemilik elemen tanah yang perfeksionis, mengubah medan perang dengan setiap hentakan kaki dan gerakan tangan. Ia menciptakan tembok, jurang, dan benteng dadakan untuk menahan gelombang Demitz. Namun tuntutannya pada ketepatan membuat setiap kesalahan kecil terasa seperti dosa besar, baik bagi dirinya sendiri maupun pasukan yang ia lindungi.
Gema, sang ekstrovert dengan elemen angin, menjadi simbol semangat di tengah kehancuran. Ia melesat di antara reruntuhan, meniup pergi serbuan Demitz, menyelamatkan pasukan dan warga yang terpisah. Humornya yang ringan memaksa banyak orang untuk tetap bergerak ketika kaki mereka hampir berhenti karena ketakutan. Namun bahkan angin yang paling kencang pun tidak selalu cukup untuk meniup habis kegelapan.
Keempat darah murni itu tersebar di kota-kota dengan dampak terparah, memimpin masing-masing guild Indist yang berfokus pada gaya bertarung dan elemen mereka. Namun ketika Bab 1 berakhir, pembaca akan dibiarkan menggantung pada satu kesadaran pahit: bahkan dengan empat pilar kekuatan itu, malam Demitz kali ini tampak terlalu besar, terlalu liar, dan terlalu ganas untuk ditaklukkan begitu saja.
Memasuki Bab 2, keadaan tidak membaik. Justru sebaliknya. Gelombang serangan Demitz datang lagi dan lagi. Retakan baru terbuka, dan jenis-jenis Demitz yang jarang terlihat di hari biasa muncul dengan brutal. Para Indist yang sudah berpengalaman kewalahan. Indist yang masih dalam tahap pelatihan, yang seharusnya belum menginjak medan perang nyata, dipaksa turun dengan wajah pucat dan tangan gemetar. Perintah dari pusat hanya satu: semua yang bisa bertarung harus bertarung.
Di tengah kepanikan, rasa takut warga berubah menjadi amarah. Mereka mulai mencari wajah untuk disalahkan. Bagi banyak orang, empat darah murni yang terlihat berlumuran darah di garis depan setidaknya masih “sedang berjuang”. Maka sasaran kebencian mereka mengarah pada satu sosok yang tidak pernah terlihat: pemegang darah murni kelima. Sosok yang rumor keberadaannya beredar sebagai legenda setengah dipercaya, setengah dikutuk.
Dalam percakapan kecil di sudut-sudut kota, di antara keluarga yang kehilangan, nama itu disebut dengan nada getir. Di ruang-ruang pengungsian, doa yang semestinya memohon keselamatan berubah menjadi seruan penuh sumpah serapah. Mereka menuduh darah murni kelima sebagai pengecut, pengkhianat, dan sumber kesialan kolektif. Jika ia benar ada, jika ia benar sekuat kabar yang diperkatakan, mengapa malam seperti ini berlangsung tanpa bayangannya sedikit pun di kota-kota yang terbakar?
Tanpa sadar, kebencian itu membentuk gelombang yang tidak hanya bergema di jalanan, tetapi juga menyusup ke sesuatu yang lebih dalam dari sekadar udara. Mereka tidak tahu bahwa di suatu tempat, di luar pandangan, di luar retakan yang mereka lihat, seseorang benar-benar mendengar mereka. Bukan lewat telinga, tetapi lewat kemampuan yang seharusnya menjadi berkah, namun bagi pemiliknya lebih terasa seperti sakit kepala yang mengganggu.
Di akhir Bab 2, suara-suara itu akhirnya menembus batas: keluhan seorang ibu, umpatan seorang ayah, ratap seorang anak, dan seluruh kota yang menyebut nama pemegang darah murni kelima sebagai kambing hitam. Dan untuk pertama kalinya, suara kolektif kebencian itu tidak lagi sekadar bergema di udara, tetapi mendarat tepat di dalam benak sosok yang mereka benci, seakan mereka berteriak langsung ke wajahnya.
Bab 3 kemudian menggeser tirai dan memperlihatkan sosok yang selama ini hanya dibicarakan: Aksa, pemegang darah murni kelima.
Namun ia tidak muncul di tengah kota, tidak berdiri di atas menara, dan tidak memimpin pasukan. Aksa justru duduk santai di atas tumpukan mayat Demitz, seperti seseorang yang lagi bersantai di atas batu besar di pinggir sungai. Tubuhnya bersih dari keringat berlebihan, napasnya stabil. Di sekelilingnya, ratusan Demitz dari kelas menengah dan beberapa yang masuk kategori bencana telah terkapar, bagian-bagian tubuh mereka berserakan menjadi bukti betapa singkat dan sepihaknya pertarungan yang baru saja berlangsung.
Berbeda dengan empat darah murni lain yang memimpin sebagai komandan, Aksa tampak seperti pemburu liar yang bekerja di luar sistem. Ia memegang dua bilah pedang pendek, bergerak ringan dan efisien, tanpa sedikit pun memanggil elemen air yang menjadi ciri darahnya. Ia sebenarnya memiliki kekuatan elemen yang luar biasa, tetapi ia lebih memilih membantai dengan senjata fisik, seolah sihir adalah pilihan terakhir yang membosankan.
Aksa tidak menyukai sorotan. Ketenaran baginya bukan kehormatan, melainkan jerat. Ia lebih memilih kebebasan yang berantakan daripada gelar yang rapi. Ia membasmi Demitz tidak sesuai perintah pusat, tetapi sesuai… mood. Terkadang ia bisa membantai ratusan Demitz dalam satu malam, lalu menghilang berhari-hari tanpa kabar, seolah dunia dan semua tuntutannya hanyalah gangguan sementara dari hidup santai yang ia idamkan.
Melalui sudut pandang orang ketiga yang kadang menyisipkan humor halus, pembaca akan menyaksikan bagaimana Aksa memperlakukan medan perang seperti panggung aneh. Ketika gelombang kedua pasukan Demitz keluar dari retakan yang tidak jauh dari sana, ia menyambut mereka bukan dengan wajah tegang, tetapi dengan santai, seolah menyambut pelanggan baru. Sebelum menebas mereka satu per satu, Aksa kerap berceloteh seakan sedang melakukan wawancara singkat: mengomentari bentuk mereka, menanyakan “alasan kerja lembur”, atau mengeluh soal bau mereka yang makin hari makin menyengat.
Pertarungan Aksa penuh darah, tetapi juga penuh ironi. Setiap gerakan pedangnya efisien, setiap langkahnya terukur, namun suasana yang ia ciptakan nyaris seperti komedi gelap. Di sela-sela itu, suara kebencian warga yang baru saja ia dengar lewat kemampuan clairvoyance-nya muncul lagi di kepala, dan Aksa meresponsnya dengan sikap seolah-olah ia menjawab siaran langsung hujatan publik. Ia mungkin menyeringai tipis, mungkin mengucap komentar sinis, tetapi hatinya tetap dijaga dengan lapisan sikap santai yang sulit ditembus.
Melalui tiga bab awal, pembaca akan dibawa mengelilingi tiga kutub utama cerita: kekacauan besar malam Demitz di kota-kota utama, perjuangan penuh kompromi moral dari para pemegang darah murni yang tampak di depan mata, dan keberadaan satu darah murni kelima yang diam-diam menanggung kebencian dunia sambil membantai musuh dalam bayangan, memilih untuk tidak terlihat.
Ketika Bab 3 berakhir, Aksa baru saja menyelesaikan gelombang serangan lain, berdiri di tengah tumpukan mayat Demitz yang terus bertambah. Ia masih belum tampak lelah, belum tertarik maju ke kota untuk membersihkan namanya, dan belum punya niat untuk menjelaskan apa pun pada siapa pun. Namun kali ini, ia tidak benar-benar sendirian.
Di balik pepohonan yang mengelilingi medan pembantaian itu, ada sepasang mata yang memperhatikannya. Sosok misterius dengan ekspresi netral, tanpa keterkejutan berlebihan, seakan kekuatan Aksa hanyalah kepingan lain dari rencana yang lebih besar. Ia tidak langsung menyerang, tidak juga menyapa. Hanya mengamati, mencatat, dan menyimpan sesuatu dalam diam.
Di titik inilah benang-benang cerita mulai tampak: empat darah murni yang kelelahan di garis depan, warga yang terperangkap antara takut dan benci, Aksa yang memilih kebebasan di antara mayat-mayat Demitz, dan seorang pengamat baru yang mungkin menjadi saksi kunci yang pertama kali melihat siapa sebenarnya darah murni kelima yang dibenci dunia ini.
Buku ini menggabungkan kegelapan dunia fantasi modern yang retak oleh serbuan monster dengan humor nyeleneh seorang pembasmi yang enggan menjadi pahlawan. Ia mengajak pembaca mempertanyakan ulang: siapa sebenarnya yang berhak dibilang pengecut, siapa yang benar-benar berjuang, dan seberapa besar harga yang layak dibayar demi menyelamatkan lebih banyak nyawa, meski itu berarti mengorbankan citra, reputasi, dan mungkin… kemanusiaan sendiri.