Judul:
Enigma di Balik Feromon
Subjudul:
Obsesinya Huang Xing, Kejatuhan QTech, dan Cinta Gelap yang Menghancurkan Hierarki ABO
Ringkasan Buku:
Di pusat keuangan Shanghai, ketika nama QTech Group milik Alpha S-Class bernama Qiu Dingjie masih menjadi lambang kesempurnaan korporasi, sebuah raksasa asing bernama X-Holding tiba-tiba menguasai delapan puluh persen pasar dunia. Pemiliknya tidak pernah muncul di depan publik. Identitasnya hanya digosipkan sebagai sosok yang tidak manusiawi, satu anomali yang dalam teori ABO disebut Enigma, keberadaannya dianggap legenda urban: satu banding sepuluh miliar, hampir mustahil.
Tidak ada yang tahu bahwa “Enigma” itu telah lama bersembunyi di hadapan mereka, dengan seragam murah, kemeja kebesaran, dan kacamata bulat yang menutupi wajah cantik yang terlalu lembut untuk seorang Alpha. Dia menyebut dirinya sekretaris pribadi AvenCorp. Semua memanggilnya: “Sekretaris kecil Jiang Heng.”
Nama aslinya: Huang Xing.
Asalnya: Hong Kong.
Gender sekundernya: Enigma.
Fakta ini dirahasiakan dari dunia, dari keluarganya, dari saudara-saudara tirinya yang saling bunuh demi tahta X-Holding, bahkan dari lelaki yang ia cintai hingga ke titik kegilaan: Qiu Dingjie.
Buku ini mengisahkan cinta obsesif, penuh manipulasi dan pengorbanan yang salah arah, antara Huang Xing dan Qiu Dingjie di dalam dunia ABO yang sangat hirarkis, keras, dan tidak memaafkan kelemahan.
Sebagai Enigma, tubuh Huang Xing berada di luar semua sistem. Feromonnya mengguncang setiap Alpha yang mencium aromanya. Rut-nya bisa meretakkan kewarasan. Ia dilatih sejak kecil untuk tidak menjerit, tidak menangis, tidak menunjukkan rasa sakit sekalipun tulangnya patah. Di keluarga Huang yang dikuasai tiga belas saudara tiri dari ibu berbeda, gagal berarti mati. Di mata mereka, Huang Xing hanyalah “anak bungsu yang terlalu cantik”, mangsa yang sempurna untuk dilecehkan, dipermalukan, dan dijadikan umpan.
Sampai suatu hari, ketika Huang Xing berusia enam tahun dan nyaris tewas dalam permainan brutal saudara tirinya, seorang bocah lelaki berumur sepuluh tahun yang sedang berkunjung bersama ayahnya ke salah satu cabang bisnis keluarga Huang menolongnya dengan cara yang, bagi bocah itu, sangat sepele: menghalangi pukulan, menyeretnya menjauh, lalu mengulurkan sebatang permen dan menyuruhnya berhenti menangis.
Bocah itu adalah Qiu Dingjie.
Baginya, itu hanya hari biasa.
Bagi Huang Xing, itu hari di mana ia menemukan satu-satunya definisi “diselamatkan” yang pernah ia alami.
Sejak saat itu, obsesi tumbuh.
Sejak saat itu, cinta bergeser menjadi candu.
Remaja, dengan kekayaan mengerikan yang semakin ia menangkan melalui pertumpahan darah internal keluarga, Huang Xing terbang bolak-balik Hong Kong – Beijing hanya untuk berdiri di sisi seberang jalan melihat Qiu Dingjie keluar masuk kantor QTech, mengamati jadwalnya, menandai preferensi makan siangnya, mencatat kebiasaan kecil yang tidak penting bagi siapa pun, tetapi jadi kitab suci baginya.
Saat dewasa, ia menguasai X-Holding tanpa pernah benar-benar muncul sebagai pemiliknya, lalu secara pelan namun pasti, menggenggam saham-saham yang mengitari QTech dan AvenCorp. Di tengah lautan Alpha yang saling sikut demi posisi teratas, Huang Xing datang bukan sebagai Alpha, bukan Omega, bukan Beta. Ia adalah sesuatu yang tidak pernah diantisipasi hierarki: Enigma.
Namun, di depan Qiu Dingjie, dia memilih tampil sebagai yang paling lemah.
Menyamar sebagai Omega miskin, pemalu, dan keras kepala di bawah naungan sahabat sekaligus kaki tangan gilanya, Jiang Heng sang CEO AvenCorp, Huang Xing merancang permainan panjang: mereduksi dirinya menjadi sekretaris kecil yang tampak rapuh, mudah takut, dengan feromon lembut yang “tidak stabil” dan konon mengidap gangguan. Ia menyusun rekam medis palsu, skenario heat yang sengaja dibuat kacau, hingga serangan pingsan yang terekam kamera CCTV kantor. Semua hanyalah panggung besar untuk menarik perhatian satu orang: Qiu Dingjie.
Pertemuan pertama mereka di masa dewasa dimulai di ruang rapat AvenCorp. Qiu Dingjie datang untuk membahas kerja sama bisnis, namun yang memicu insting alphan-nya bukan lembar proposal di meja, melainkan siluet sekretaris kecil yang sedang digoda pedas oleh Jiang Heng. Wajah pucat, mata besar yang tampak hendak menangis, bibir merah yang digigit resah, tubuh sedikit gemetar, aroma feromon yang manis dan bersih. Semua tepat dengan tipe Qiu Dingjie, yang punya tiga puluh dua mantan Omega dengan pola yang hampir identik.
Hanya kali ini, ada sesuatu yang berbeda: Omega mungil itu berani membalas dengan tatapan keras kepala.
Di sinilah babak pertama buku ini bergerak: permainan tarik ulur antara Alpha S-Class yang terbiasa membuang kekasih ketika bosan, dan “Omega” yang sebenarnya bukan Omega, yang bertekad menjadikan hidup Qiu Dingjie sebagai pusat orbitnya. Huang Xing memanipulasi ritme pendekatan, memancing naluri protektif Qiu Dingjie, lalu menolak ajakan tidur dengan alasan “penyakit feromon” yang hanya bisa stabil lewat mark permanen. Ia menciptakan batas, memancing frustasi, lalu menyuapinya dengan kelembutan dan ketergantungan emosional hingga Qiu Dingjie jatuh pelan-pelan tanpa menyadari bahwa tali di lehernya dipegang oleh orang lain.
Sementara itu, di balik layar, X-Holding mengatur ulang peta bisnis global. QTech berada di ambang kejatuhan karena sabotase pasar dan tekanan saham yang datang dari sumber yang tidak terlihat. AvenCorp berdiri di tengah sebagai jembatan, atau pisau, tergantung siapa yang memegang gagangnya. Jiang Heng, Alpha S-Class bermulut pedas yang terkenal membenci Omega, menjadi saksi sekaligus koordinator dari seluruh panggung kekacauan ini, sambil terus berdebat sarkastik dengan Huang Xing yang di mata dunia hanyalah sekretaris kecilnya yang “terlalu cantik untuk Alpha.”
Puncak babak kedua: ketika QTech hampir runtuh, Jiang Heng mengulurkan tawaran yang tampak kejam pada Qiu Dingjie: “Serahkan Omega itu padaku, aku selamatkan perusahaanmu.” Sebuah tawar-menawar yang segera ditolak mentah-mentah oleh Qiu Dingjie, yang saat itu sudah terlanjur mencintai Huang Xing di balik identitas palsu. Tanpa disadari, Huang Xing mendengar percakapan itu. Malam itu juga, “Omega miskin” itu lenyap dari hidup Qiu Dingjie, meninggalkan surat yang tampak seperti curahan hati korban yang menyerahkan diri sebagai tumbal bisnis.
Dalam narasi dramatis yang mengiris, buku ini menunjukkan bagaimana Huang Xing melukai dirinya sendiri sampai tampak seperti Omega yang habis diperkosa beramai-ramai oleh Alpha, agar kebohongannya tentang pengorbanan tampak sempurna. Ketika akhirnya Qiu Dingjie menemukannya, terluka dan menggigil, seluruh insting alphan Qiu Dingjie runtuh menjadi penyesalan dan rasa bersalah. Ia membawa pulang Huang Xing, merawatnya, memeluk trauma yang ia kira asli, dan mengikat dirinya semakin erat pada sosok yang sebenarnya sedang menariknya lebih dalam ke jaring.
Hubungan mereka memasuki fase manis, lembut, dan sangat intim: heat palsu, rut yang dijaga, mark yang tertunda, dan malam-malam panjang penuh feromon yang membuat keduanya bergantung, bukan hanya pada tubuh, tetapi juga pada kehadiran. Qiu Dingjie, yang dulu mudah bosan dengan setiap Omega, menemukan dirinya ingin melihat air mata Huang Xing hanya saat terharu, bukan saat takut. Ia mulai cemburu, posesif, membatasi siapa pun menyentuh sekretaris kecil itu. Huang Xing, di sisi lain, menunjukkan sisi kanak-kanak yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun: manja, rewel, selalu mengalah pada setiap kemauan Qiu Dingjie, tetapi tetap licik dalam setiap taktiknya.
Namun kebohongan tidak bisa bertahan selamanya.
Insiden besar yang menjadi puncak pengungkapan identitas datang bukan dari rencana siapa pun. Dalam salah satu serangan terhadap QTech yang didalangi pesaing internasional, sebuah percobaan pembunuhan menyasar langsung Qiu Dingjie. Di tengah kekacauan rut dan feromon yang memanas, ketika peluru dan gas penekan Alpha beterbangan, Huang Xing berhenti bersandiwara. Ia bergerak dengan ketepatan mesin pembunuh yang terlatih, menembus feromon penekan, menahan luka yang seharusnya menjatuhkan siapa pun, dan membuka sebagian dari kekuatan Enigma-nya untuk melindungi Qiu Dingjie.
Ruang rapat yang seharusnya hanya diisi pekikan karyawan berubah menjadi panggung pembantaian. Para penyerang musuh jatuh satu per satu, tanpa ampun. Darah mengotori lantai marmer, dan di tengah semua itu, Huang Xing berdiri dengan ekspresi datar, seperti tidak merasakan apa pun, sementara darahnya sendiri menetes dari luka yang seharusnya mematikan.
Saat itulah Qiu Dingjie menyadari dua hal:
Pertama, “Omega”-nya bukan Omega.
Kedua, orang di depannya bukanlah manusia yang sama dengan Alpha S-Class lainnya.
Identitas sebagai pemilik X-Holding perlahan terbuka. Sisi bengis, dingin, dan brutal Huang Xing terpantul jelas. Kemarahan Qiu Dingjie meledak, bukan hanya karena kebohongan, tetapi karena menyadari bahwa selama ini ia telah dimanipulasi dengan sempurna, bahkan rasa kasihan dan proteksinya dijadikan alat.
Babak ketiga buku ini merekam pengejaran tidak tahu malu dari seorang Enigma yang mampu meruntuhkan pasar dunia, namun menjadi konyol dan kekanak-kanakan ketika mengejar maaf satu Alpha S-Class. Huang Xing menggunakan semua sumber daya X-Holding: menutup seluruh jalan di satu distrik hanya untuk menunggu Qiu Dingjie lewat, membanjiri ponsel dan media dengan permintaan maaf terselubung, mengirimkan hadiah-hadiah yang terlalu mahal sampai Jiang Heng sendiri muak melihatnya.
Di saat bersamaan, dunia luar tetap mengira bahwa Huang Xing adalah Omega cantik yang dinikahi Qiu Dingjie demi menyelamatkan reputasi QTech. Harga diri Alpha S-Class milik Qiu Dingjie dijaga baik-baik oleh orang yang paling bisa menghancurkannya. Huang Xing rela dicap Omega laki-laki yang “dipelihara” demi menjaga posisi Qiu Dingjie dalam hierarki sosial ABO.
Hubungan mereka mengalami retakan, lalu perlahan disemen kembali oleh pengakuan, rasa bersalah, dan kenyataan bahwa apa pun yang terjadi, perasaan yang tumbuh di antara mereka tidak sepenuhnya palsu. Qiu Dingjie memaafkan, tetapi masih berkeras mengira Huang Xing adalah Alpha S-Class seperti dirinya, menolak percaya pada kisah Enigma yang terdengar seperti dongeng.
Kebenaran terakhir menghantam melalui tubuhnya sendiri.
Dalam kunjungan ke dokter spesialis ABO, ketika gejala aneh mulai muncul dan tes medis dilakukan berulang kali, Qiu Dingjie mendapat vonis yang mengguncang: ia hamil. Di dunia di mana Alpha tidak pernah hamil, kehamilan Alpha S-Class hanya mungkin terjadi jika pasangannya adalah anomali tertinggi: Enigma. Dokter menjelaskan dengan bahasa klinis, memetakan anatomi yang seharusnya steril dari konsep kehamilan, sampai tidak ada ruang untuk penolakan lagi.
Di sanalah Qiu Dingjie akhirnya memahami bahwa semua “bualan” Huang Xing tentang Enigma bukan sekadar bualan. Ia hamil anak seorang Enigma yang mencintainya dengan cara paling sakit.
Kehamilan itu hampir menghabisi nyawanya. Operasi sesar darurat, pendarahan hebat, koma tiga hari. Di samping ranjang rumah sakit, sosok yang ditakuti dunia itu duduk memegang tangan Qiu Dingjie tanpa melepaskan, menulis surat wasiat untuk diserahkan pada anaknya jika yang terburuk terjadi, memerintahkan Jiang Heng untuk menghancurkan X-Holding jika Qiu Dingjie tidak pernah bangun.
Ia sudah siap mati jika hidup Qiu Dingjie diambil.
Namun Qiu Dingjie bangun, dan anak mereka lahir.
Marga anak itu: Huang, pilihan Qiu Dingjie sendiri sebagai bentuk penghormatan pada lelaki yang, betapa pun gilanya, adalah ayah biologisnya. Buku ini akan menamai anak itu dengan nama yang memadukan garis keturunan mereka, mencerminkan sifat tajam sekaligus manja yang diwarisi dari Huang Xing.
Epilog buku menampilkan sisi paling ironis dari seluruh kisah: di dalam rumah, di hadapan seorang anak yang sangat mirip Huang Xing baik rupa maupun kepribadian, pemilik X-Holding yang berdarah dingin itu justru menjadi ayah kekanak-kanakan yang terus bertengkar kecil memperebutkan Qiu Dingjie. Anak itu memanggilnya dengan nama langsung, “Huang Xing”, kecuali ketika Qiu Dingjie menegur dengan lembut dan memaksanya menyebut “ayah.” Di mata dunia, Huang Xing tidak tersentuh, ditakuti, dan tidak punya kelemahan. Di rumah, kelemahan itu duduk di sofa, memegang remote, dan dengan nada malas berkata, “Huang Xing, duduk diam. Anakmu niru perangaimu.”
Di antara ledakan tawa Jiang Heng yang selalu jadi saksi kekonyolan mereka, luka lama keluarga Huang yang tak pernah benar-benar hilang, serta dunia ABO yang perlahan menyesuaikan diri dengan keberadaan Enigma nyata di puncak piramida, buku ini menuturkan perjalanan cinta yang bukan sekadar manis atau tragis, tetapi juga obsesif, merusak, dan pada akhirnya justru menyelamatkan:
Cinta yang mampu mengubah mesin pembunuh menjadi lelaki yang takut melihat pasangan alphan-nya mengerutkan kening.
Cinta yang bertahan tujuh belas tahun dalam diam, menyeberangi darah, hierarki, dan kebohongan, hanya untuk duduk di ujung ranjang rumah sakit sambil berbisik, “Kalau kau mati, aku ikut.”
“Enigma di Balik Feromon” adalah kisah tentang bagaimana kekuasaan absolut, kekejaman tanpa batas, dan anomali biologis paling berbahaya di dunia ABO akhirnya tunduk pada satu hal yang sama rapuhnya dengan sehelai rambut: hati seorang Alpha S-Class bernama Qiu Dingjie.